Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

THE RAID 2 REVIEW

ABOUT THE ACT
Ya elah mak, aktornya sih pada kacang semua, apalagi Iko Uwais

Kenapa harus Julia Estel? Kenapa gak Julia Perez? Gak ada yang lebih cantik po?

Doni Damara? Hmmm boleh lah.

ABOUT CINEMATOGRAPHY
So far, dari keseluruhan film ini yang berhasil cuman DOP nya doang, yang mampu menyuguhkan gambar-gambar super menarik bahkan angel angelnya luar biasa perkasa.

Merekam bener-bener kaidah Jakarta yang supernova dan bener-bener cantik dan artistik!

Ada yang liat pemberhentian Busway hancur? Apa gak dimarahin si Ahok yah? (merusak fasilitas umum)

ABOUT THE COSTUME
Film Indonesia apanya kalau gak ada kostum ke Indonesiaannya?


ABOUT THE SCORE

CHIT CHAT
What the damd thing? Gw masih belum mau mengakui kalau ini film buatan Indonesia, kenapa? Ya karena sutradaranya bukan orang Indonesia. Okelah aktor-aktornya aktor Indonesia tapi ya tetep aja sang sutradara cuman orang rantauan yang nyoba nyari makan di Indonesia.

Terus terang saya merasa kecolongan dengan film berbau pencak silat ini, sama perasaan kecolongan gw sama film The Act of Killing, film tentang PKI yang orang Indonesia sendiri gak tahu menahu tentang PKI ini gara-gara sejarahnya dibakar, dipendem dan ditenggelamin sama Soeharto.

Lucunya ini film dapet review positif dari media luar negri tentang koreografi berantemnya dan bukan dari script writer, sutradara, DOP nya, lucu kan? Kata Huffington Post "Stop talking & keep fighting.". Ya intinya sutradaranya juga belum terlalu berkualitas, yang bikin orang luar seneng yah koreography berantemnya yang belum pernah dilihat oleh banyak orang luar yang udah bosen sama gaya brantem Bruce Lee dan Jackie Chan yang selalu China dan Jepang muluk.

Tapi setelah semuanya, gw sih tetep terimakasih sama semua crew yang udah promosiin Indonesia lewat media film, fak lah dengan acara iklan yang cuman ngabisin duit negara tanpa ada bekasnya, ya ini nih media film kayak gini nih yang paling bagus buat promosi, udah murah dapet untung lagi.

Dari orok gw tuh pengen bikin proposal buat minta dana pemerintah buat bikin film yang mromosiin Indonesia, pake crew luar yang propesional kayak yang pernah di bikin sama negara China dengan The Last Emperor nya yang dapet 9 Oscar. Daripada duit 2 Triliun cuman bikin olimpiade olah raga (di korupsi), mending 2 Triliun buat bikin film tentang perang puputan di Bali atau tentang perbudakan Belanda yang uang segitu bisa dapet banyak. Iya gak sih?

Semoga dengan ini Indonesia makin tercambuk cambuk dan makin malu dengan film-film drama fiksi yang mengada-ngada itu. Kalau mau nyalahin keadaan perfilman Indonesia, salahin Sukarno sama Suharto yang haus kekuasaan itu.

Ya uwislah, sudahlah, selamat menyaksikan nih film, mau yang bajakan atau dibioskop terserah deh, gw gak peduli nih film

Senin, 16 Desember 2013

KEBUDAYAAN INDONESIA ASLI DAN PENGARUH NEGARA BARAT DAN NEGARA TIMUR

Kebudayaan Indonesia sekarang ini telah sangat jauh berbeda dengan kebudayaan indonesia jaman dahulu, yang kata orang ramah, senang bergotong royong, jauh dari kekerasan. Namun sesungguhnya ketidak ramahan, pornografi, porno aksi atau kekerasan sebenarnya juga menjadi bagian dari budaya kita dan sama sekali bukan dari negara Amerika atau negara barat, tapi karena orang Indonesia dari dulu sudah munafik, mereka menutupinya serapih mungkin dari dunia. Kenapa begitu?

Kita lihat saja budaya Nyai Ronggeng di purwakarta yang menari dan menerima saweran, apa bedanya dengan penari Go Go Dancer di Las Vegas? Atau budaya tari perang di Papua yang syarat akan kekerasan, belum pula tragedi perang Sumut dan Mesuji, ganja yang tumbuh subur di Aceh, budaya persembahan kepala manusia di salah satu pulau. Apakah iya, semua yang berbau pornografi prostitusi dan kekerasan karena pengaruh barat? Pikir kembali.

Seseorang di Metro TV yang mengaku sebagai budayawan selama 30 tahun telah mengatakan bahwa film action tembak-tembakanlah yang mempengaruhi budaya kekerasan di tanah air kita, owh please! Sedangkan pada ilmu konflik telah mengatakan bahwa sudah menjadi naluri manusia untuk membela diri ketika ada sesuatu yang mengancam, owh please!

Budaya negri timur pun tidak selalu dipandang dengan dua mata di negara kita, lihat bagaimana budaya memotong tangan untuk para pencuri, lihat rajaman batu sampai mati, lihat laki-laki beristri banyak, lihat wanita tak boleh mengendarai mobil sendiri.

Dewi Lestari dalam bukunya Kesatria dan Bintang Jatuh mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang munafik, mengaku sangat timur tapi berpakaian barat, mengaku sangat barat tapi juga timur. Tinggal masyarakat di Indonesia saja yang ingin membawa diri mereka sendiri.

Dalam sebuah buku (lupa judul) juga dikatakan bahwa budaya barat juga sudah mulai memasuki negri timur, dan tak dapat dipungkiri bahwa budaya negri timur juga telah masuk kejiwa-jiwa masyarakat barat.

Tapi sudah saya katakan di awal bahwa begitulah ciri sebuah kebudayaan, bahwa mereka bisa berkembang, mereka bisa berubah, mereka bisa punah, mereka bisa tumbuh lagi.

Berbicara tentang kebudayaan sama saja berbicara tentang manusia yang mudah bosan, yang ingin tahu, ingin mencoba, ingin bebas, ingin diterima, ingin disanjung. Berbicara tentang karakter. So what?

Lalu dimana kebudayaan negara asli Indonesia? Gak ada, kita semua terlahir dari pengaruh dari berbagai kebudayaan-kebudayaan semua saling mengisi dan berkontribusi pada satu dan lainnya, sama seperti diri kita sendiri yang berperilaku seperti orang-orang yang pernah kita lihat dengar dan lain sebagainya.

Jauh dari genap 100 tahun yang lalu kita mengalami revolusi budaya besar-besaran, dari daerah-daerah kerajaan kecil kita dipersatukan oleh para penjajah Belanda, Inggris, dan Jepang yang datang dan pergi mengayahi kebudayaan kita. Dari arsitektur, pakaian, bahasa, sikap dan perilaku, ilmu pengetahuan, sudut pandang, teknologi, olahraga, permainan kita telah terombak habis.

Ditambah dengan era globalisasi seperti sekarang ini yang segala hal tak dapat ditutupi atau dicegah, atau lebih terdengar dengan saling berbagi ini setidaknya akan pula mengancam kebudayaan-kebudayaan kita dan kebudayaan negara-negara lain.

Sama seperti dahulu kala, kebudayaan masih disebarkan lewat kapal, lewa pesawat, buku-buku, surat, media dan lain sebagainya.

Saya percaya bahwa keabadian hanya milik Allah, dan saya percaya bahwa kebudayaan dapat punah. Siapkan dirimu untuk hancurnya kebudayaan Indonesia dan siapkan juga dirimu untuk mengandaskan kebudayaan orang lain. Bey!

So? Mau kau bawa kemana kapal kita ini?

Rabu, 11 Desember 2013

WHAT THEY DON'T TALK ABOUT WHEN THEY TALK ABOUT LOVE REVIEW


WHAT THEY DON'T TALK ABOUT WHEN THEY TALK ABOUT LOVE

YANG TIDAK DIBICARAKAN KETIKA TIDAK MEMBICARAKAN CINTA

JANGAN BICARAKAN CINTA

Sutradara: Mouly Surya
Cinematography: Yunus Pasolang


Setelah hampir satu tahun saya menunggu film What They Don't Talk About When They Talk About Love ini akhirnnya saya dapat menonton juga, lewat Acara Jogja-Netpac Asian Film Festival.

Dan setelah menonton film ini, saya langsung berfikir bahwa Indonesia sudah bertambah cerdas dalam berfilm, dan memang tidak mengherankan kalau akhirnya film ini menjadi salah satu film terpilih di Sundance. Semoga dengan film What They Don't Talk About When They Talk About Love ini, Indonesia punya pegangan baru dalam membuat film-film yang khas Indonesia yang punya ciri kusus dan prestisius dalam persaingan industri film diluar negeri.



TALK ABOUT ACTING

Karina Salim
Karina memerankan tokoh Diana yang punya keterbatasan dalam penglihatan, aktingnya sebagai Diana cukup berhasil, namun tidak terlalu menimbulkan kesan yang mendelam. Hampir tidak ada best scene dalam penampilannya yang biasa selain scene di super market dengan snack diwajahnya.

Anggun Priambodo
Menurut saya dari semua aktor, si Anggun inilah yang sama sekali tidak punya sense of aktor, aktingnya sangat kaku dan tidak buta. Saya tidak dapat berbicara lebih tentang Anggun ini. Saya tidak melihat bahwa si Andhika benar-benar buta. Kacamata hitam dan topi cukup cerdas sebagai wardrob yang dikenakan si Anggun, karena untuk menutupi kekurungan aktingnya *mungkin. Cerdas!

Ayushita
Best scene atau menit terbaik yang dilakukan oleh Ayushita adalah ketika Fitri melakukan hubungan seksual dengan pacarnya yang tompel di sebuah gudang, menit itu dia benar-benar menampilkan mimik wajah yang sempurna. Menurut saya Ayushita benar-benar dapat bermain peran daripada rival abadinya Bela, dan lebih cantik daripada Prisilia Nasution, lebih berbakat daripada Acha Septriasa, lebih cerdas daripada Dian Sastro.

Nicholas Saputra
Lagi-lagi Nicholas Saputra dapat bermain apik dengan karakter yang berbeda, Nicholas Saputra berhasil memainkan peran pemuda punk yang bisu karena tuli. Menit terbaik Nicholas Saputra adalah ketika pada scene kolam renang saat si Edo sedang berada di kolam renang dan memakai jas dokter.

Kualitas acting Nicholas emang jempolan deh, aktor terbaik se Indonesia Raya! Siapa Reza Rahardian? Siapa Lukman Sardi?


TALK ABOUT THE MUSIC
Katanya penata musiknya sih Zeke Kasheli, saya pernah nonton konsernya dia waktu di Solo dan biasa saja.

So far from good. Di media luar mengatakan bahwa penata musik pada film What They Don't Talk When They Talk About Love ini cukup mendapat review yang positif, tapi menurut saya Musical Movement ini sudah sangat biasa di kancah perfilman Indonesia daripada diluar negeri.

Kita lihat saja scene Maya yang setiap kali datang membawa kue dengan alunan lagu Bing Slamet dengan Nurlelanya. Boring tapi tepat, sebenernya lagu tersebut adalah soundtrack resmi dari film Berbagi Suami dan gak ada yang special dari mengambil format yang sudah ada di film pendahulunya.

Yang paling kacau adalah ketika scene sekolah pertama, saat menyanyikan burung camar? What? Musical? Oh men... Gue udah mumet sama film musical. Penata musiknya biasa aja ah... Lebih bagusan juga si Mely Guslow di Ada apa dengan cinta, atau film Eifel I'm in love. Ya gak?

Tapi kalau masalah pemilihan lagu film ini cukup baik walau tidak begitu cerdas, aransemen music dan score scorenya juga baik.


TALK ABOUT CINEMATOGRAPHY
Director Of Potography film What They Don't Talk About When They Talk About Love ini adalah Yunus Pasolang, saya tidak begitu mengenalnya, namun gambar yang dia coba sajikan juga tidak begitu ajaib dan cerdas, biasa dan menjemukan. Kebanyakan Long Shot dan Medium Shot untuk mendramatisasi kebutaan tokoh.

Namun sang Yunus punya sesuatu yang masih saya ingat, pada scene kolam renang saat Edo melintasi tengah kolam renang dan si Fitri yang sedang ML dengan pacarnya. Itu saja, dan yang lainnya amatir.


TALK ABOUT DRAMA
Film yang mengangkat kisah cinta orang-orang yang punya keterbatasan ini cukup unik dan tidak pasaran. Dan tentu saja itu semua adalah tujuannya untuk memberitahukan kepada penonton bahwa masih ada orang-orang yang tidak lebih beruntung daripada kita.

Dan titik puncak dari film ini adalah scene ketika semua tokoh menjadi orang normal dan berkumpul di walmart seven eleven. (Iklan po?)

*Dan ditengah berjubelnya kursi penonton, mohon maaf, saya menangis saat itu.


TALK ABOUT THE MESSAGE
Dan pada akhirnya sebuah film harus punya pesan yang disampaikan, mungkin pesan yang ditangkap oleh orang satu berbeda dengan orang yang lainnya, akan tetapi inilah pesan yang akhirnya saya tangkap dari film What They Don't Talk About When They Talk About Love:

Mengingat film ini berjudul What They Don't Talk About When They Talk About Love akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa:

"Kau tak membicarakan kekuranganmu ataupun kekurangannya ketika kau jatuh cinta."

*nangis


Sekian review dari saya, semoga tidak menyesatkan.