Tampilkan postingan dengan label TELEVISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TELEVISI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2014

PESBUKERS DALAM PERSPEKTIF KEBUDAYAAN INDONESIA

Tayangan Pesbukers adalah acara komedi yang ditayangkan di stasiun ANTV setiap hari Senin sampai Minggu pukul 17:30 WIB hinga pukul 19:00 WIB yang di mainkan oleh beberapa artis, selebriti, penyanyi dan aktor di Indonesia, dengan format interpretasi dari naskah drama komedi langsung, yang di kembangkan oleh para pemain inti seperti Olga Saputra, Rafi Ahmad, Jesika Iskandar, Chan Kelvin, Tara Budiman, Sapri serta pemain tamu yang berganti-ganti, dan dibuat untuk menghibur masyarakat Indonesia yang menonton televisi.

Banyak yang beranggapan bahwa tayangan komedi Pesbuker adalah tayangan yang tidak mendidik, tidak berbudaya, tidak mencerminkan Ke Indonesian dengan gaya komedi yang kasar, ceplas ceplos, bodoh dan tidak lazim.

Berikut ini adalah analisis saya mengenai tayangan Pesbuker dalam perspektif kebudayaan Indonesia.

Fesbukers sebenarnya adalah cerminan dari budaya masyarakat modern bangsa Indonesia yang telah melewati masa-masa orde lama dan orde baru dan kini menjadi negara yang semi demokrasi yang tetap mengacu pada bayang-bayang kebudayaan Indonesia,,,

Jika berbicara tentang kesopanan maka kita akan dihadapkan pada sudut pandang setiap orang yang berbeda-beda tentang sebuah kesopanan. Bahkan Negara Indonesia yang sudah mengesahkan Undang Undang Pornografi saja masih gelimpungan saat ditanya tentang batasanya dengan budaya Indonesia.

Fesbukers adalah campuran dari berbagai kebudayaan di Indonesia, dari wayang kulit, wayang wong, lenong, ludruk, musik, tari yang lekat dengan acara live komedi seperti pendahulu-pendahulunya.

Katakanlah sahut menyahut pantun yang sangat Lenong sekali dari budaya betawi, candaan yang ceplas-ceplos seperti masyarakat betawi. Maka sangat tidak agung jika banyak orang yang mengkritiknya karena candaan yang kasar. Jika ada yang tiba-tiba mempersoalkan sifat dan karakter, itu sama dengan sedikit nakal ga sih?

Pesbukers juga lambang generasi anak muda di Indonesia yang sosialis, ramah serta humoris. Karena artis-artis yang menganggap lawan main adalah sahabat dan bukan partner, kekentalan persahabatan mereka sangat tercermin dari penampilan diatas panggung.

Saat ini semua orang menjadi sedikit pintar dengan komentar-komentar tentang tayangan-tayangan yang mendidik dan tidak mendidik, berating banyak atau berating rendah. So what? Pertanyaannya adalah kenapa tayangan-tayangan yang berating tinggi saja yang mendapat sorotan media dan perhatian pemerintah, sedangkan banyak tayangan yang berbau politik kotor, pornografi, pembodohan, kebohongan yang turut sumbangsih dalam kebobrokan Indonesia.

Para pemain atau aktor-aktor dalam perbukers adalah orang-orang Indonesia yang lahir dan hidup di Indonesia, so mereka juga memiliki budaya yang sama dengan budaya kita. So what? So, mereka adalah cerminan kita para pemuda dan pemudi Indonesia yang sekarang.

Disisi lain di televisi juga menayangkan film-film dari luar negeri yang mempunyai dampak yang lebih besar daripada sekedar tayangan Pesbukers. Semua orang tahu itu tapi pemerintah (selalu saja) diem. Huh?

Tapi saya percaya Indonesia semakin lama akan semakin membaik dan sehat, karena sumbang sih kalian untuk menyarankan orang-orang terdekat kalian agar menonton tayangan yang lebih baik.

Selamat berjuang kakak.

Senin, 16 Desember 2013

KEBUDAYAAN INDONESIA ASLI DAN PENGARUH NEGARA BARAT DAN NEGARA TIMUR

Kebudayaan Indonesia sekarang ini telah sangat jauh berbeda dengan kebudayaan indonesia jaman dahulu, yang kata orang ramah, senang bergotong royong, jauh dari kekerasan. Namun sesungguhnya ketidak ramahan, pornografi, porno aksi atau kekerasan sebenarnya juga menjadi bagian dari budaya kita dan sama sekali bukan dari negara Amerika atau negara barat, tapi karena orang Indonesia dari dulu sudah munafik, mereka menutupinya serapih mungkin dari dunia. Kenapa begitu?

Kita lihat saja budaya Nyai Ronggeng di purwakarta yang menari dan menerima saweran, apa bedanya dengan penari Go Go Dancer di Las Vegas? Atau budaya tari perang di Papua yang syarat akan kekerasan, belum pula tragedi perang Sumut dan Mesuji, ganja yang tumbuh subur di Aceh, budaya persembahan kepala manusia di salah satu pulau. Apakah iya, semua yang berbau pornografi prostitusi dan kekerasan karena pengaruh barat? Pikir kembali.

Seseorang di Metro TV yang mengaku sebagai budayawan selama 30 tahun telah mengatakan bahwa film action tembak-tembakanlah yang mempengaruhi budaya kekerasan di tanah air kita, owh please! Sedangkan pada ilmu konflik telah mengatakan bahwa sudah menjadi naluri manusia untuk membela diri ketika ada sesuatu yang mengancam, owh please!

Budaya negri timur pun tidak selalu dipandang dengan dua mata di negara kita, lihat bagaimana budaya memotong tangan untuk para pencuri, lihat rajaman batu sampai mati, lihat laki-laki beristri banyak, lihat wanita tak boleh mengendarai mobil sendiri.

Dewi Lestari dalam bukunya Kesatria dan Bintang Jatuh mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang munafik, mengaku sangat timur tapi berpakaian barat, mengaku sangat barat tapi juga timur. Tinggal masyarakat di Indonesia saja yang ingin membawa diri mereka sendiri.

Dalam sebuah buku (lupa judul) juga dikatakan bahwa budaya barat juga sudah mulai memasuki negri timur, dan tak dapat dipungkiri bahwa budaya negri timur juga telah masuk kejiwa-jiwa masyarakat barat.

Tapi sudah saya katakan di awal bahwa begitulah ciri sebuah kebudayaan, bahwa mereka bisa berkembang, mereka bisa berubah, mereka bisa punah, mereka bisa tumbuh lagi.

Berbicara tentang kebudayaan sama saja berbicara tentang manusia yang mudah bosan, yang ingin tahu, ingin mencoba, ingin bebas, ingin diterima, ingin disanjung. Berbicara tentang karakter. So what?

Lalu dimana kebudayaan negara asli Indonesia? Gak ada, kita semua terlahir dari pengaruh dari berbagai kebudayaan-kebudayaan semua saling mengisi dan berkontribusi pada satu dan lainnya, sama seperti diri kita sendiri yang berperilaku seperti orang-orang yang pernah kita lihat dengar dan lain sebagainya.

Jauh dari genap 100 tahun yang lalu kita mengalami revolusi budaya besar-besaran, dari daerah-daerah kerajaan kecil kita dipersatukan oleh para penjajah Belanda, Inggris, dan Jepang yang datang dan pergi mengayahi kebudayaan kita. Dari arsitektur, pakaian, bahasa, sikap dan perilaku, ilmu pengetahuan, sudut pandang, teknologi, olahraga, permainan kita telah terombak habis.

Ditambah dengan era globalisasi seperti sekarang ini yang segala hal tak dapat ditutupi atau dicegah, atau lebih terdengar dengan saling berbagi ini setidaknya akan pula mengancam kebudayaan-kebudayaan kita dan kebudayaan negara-negara lain.

Sama seperti dahulu kala, kebudayaan masih disebarkan lewat kapal, lewa pesawat, buku-buku, surat, media dan lain sebagainya.

Saya percaya bahwa keabadian hanya milik Allah, dan saya percaya bahwa kebudayaan dapat punah. Siapkan dirimu untuk hancurnya kebudayaan Indonesia dan siapkan juga dirimu untuk mengandaskan kebudayaan orang lain. Bey!

So? Mau kau bawa kemana kapal kita ini?

Selasa, 10 Desember 2013

INDONESIA LAWAK KLUB REVIEW

Menurut saya program Indonesia Lawak Klub ini adalah lawakan terbaik di 2014. Indonesia lawak klub ini adalah parodi dari Indonesia Lawyers Club yang di tayangkan di TVONE.

Opra Van Java, Fesbukers, Yuk Keep Smile adalah beberapa tayangan yang resmi berlabel komedi, dan yang lainnya acara talk show yang masih nekat bertahan agar tetap mendapatkan rating tinggi, tak ada inovasi dan sudah basi.

Terus terang saja menyebut Indonesia Lawak Klub ini komedi sarkatis yang menyinggung Indonesia Lawyers Klub yang menyajikan beragam teori tanpa aksi saja, menghujat tanpa solusi, istilahnya cuman omdo. Lihat orang-orang berdasi yang digaji oleh pemerintah tapi malah menentang tugasnya dan terus melakukan pencitraan yang sangat primitif itu. Damd! Its make me sick.

Indonesia Lawak Klub ini berhasil menggabungkan artis artis lama dan artis baru dalam satu frame yang cerdas, mereka berbicara secanggih mungkin sama seperti Indonesia Lawyers Club yang berbicara semaunya, seenaknya, sebisanya, sepintarnya bedanya ILC berbicara tentang genre politik, dan persamaannya mereka sama-sama ngelawak. Gross!

Dipertengahan 2012 lalu saya pernah merasa bahwa Indonesia Lawyers Club ini, tak ubahnya dengan para ibu-ibu yang berkumpul dan bergosip, dan bemb! Ternyata sekarang ada yang lebih lucu daripada mereka. Hah!

Topik yang dibawa di dalam ILK juga beragam pada topik pembicaraan orang-orang keseharian, tidak muluk dan jujur. Inspiratif? Tentu saja inspiratif, tanpa setingan dan tetap pada tempatnya, saya yakin, acara ini cepat atau lambat akan mendapat tempat di hati permisa.

Jika ada waktu luang, menonton Indonesia lawak klub ini tidak terlalu merugikan. Ditayangkan setiap hari Minggu jam setengah enam sore. Selamat menonton.

Minggu, 01 Desember 2013

BUDAYA POP KHAS INDONESIA DALAM MEDIA TELEVISI


Budaya pop yang lebih dikenal dengan budaya populer adalah sebuah kebudayaan manusia yang mengalami perubahan atau modikasi karena perubahan jaman secara berkesinambungan dan terus menerus.

Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya pop ini di pengaruhi oleh budaya barat yang mempunyai kultur yang lebih terbuka pada sesuatu yang baru di segala bidang.


Kita tahu bahwa ditelevisi kita dari awal berdirinya TVRI telah diisi oleh kebudayaan-kebudayaan kita sendiri. Misalnya saja acara Ludruk kirun, kolik, dan bagio yang populer di tahun 90 atau acara wayangan dan tari-tari daerah. Budaya asli Indonesia tersebut dibawa kedalam televisi.
Karena masyarakat mulai bosan dan menuntut sesuatu yang baru, maka di modifikasilah kebudayaan lelucon panggung semisal lenong bocah (Jakarta), ludruk (Jawa Timur), dan Dagelan (Jawa Tengah) kedalam budaya pop seperti Pesbukers, Opra Van Java.

Tarian-tarian asli Indonesia juga turut di modifikasi seperti yang dilakukan oleh Agnes Monica dengan tari Samannya yang pernah di cekal oleh masyarakat Aceh dengan pakaian yang terbuka dan ditarikan seperti orang gila. Please!

Lagu-lagu seperti langgam jawa juga tidak luput dari serangan kebudayaan pop ini, sebut saja namanya Campur Sari yang kini telah menggunakan gitar, piano dan drum yang menjadikannya seperti lagu-lagu Didi Kempot yang sering kita dengar dimana-mana.

Ada yang bisa menebak budaya wayang kulit? Budaya wayang kulit berkolaborasi dengan telenovela, film dan drama radio, opra sabun menjadi sinetron Sang Prabu atau Misteri Gunung Berapi.

Pakaian-pakaian Indonesia juga menjadi berubah karena budaya pop ini. Lihat saja kebaya Agnes Monica didalam video klip Paralyzed karya Anne Avanti. Atau kain songket yang berubah manjadi gaun? Atau sarung yang berubah menjadi dasi? Kemeja batik? Siapa penemu kemeja kalau bukan orang barat?
Apa yang tidak luput dari kebudayaan pop?

Begitu kejamnya budaya pop yang merusak budaya aslilah yang membuat budaya pop ini diklaim sebagai budaya murahan. Tapi seperti yang terjadi dengan budaya asli, saya yakin suatu hari budaya pop akan pula musnah menjadi budaya modern yang akan juga di gerus oleh budaya new wave dan entah apa lagi namanya nanti.

Saya juga yakin dahulu kala si budaya asli atau tradisional ini juga wujud asli dari sebuah penghancuran suatu budaya pendahulunya.
Intinya budaya-budaya ini akan melebur menjadi satu dan menjadi kebudayaan baru, seperti kalkulator yang berubah menjadi komputer yang berubah menjadi leptop yang berubah menjadi ipad yang berubah menjadi tatakan.

Lantas kenapa harus marah saat batik mulai dilupakan atau kimono mulai ditinggalkan atau tari pendet yang sudah mindstream.

Halo masyarakat modern, halo masyarakat new wave, we koming to you.
Musik pop?